STOP KLITHIH…!! PELAJAR JOGJA ISTIMEWA TANPA KEKERASAN
Apa jadinya bila Jogja yang terkenal sebagai kota pelajar, yang terkenal warganya sebagai orang yang ramah, tapi malah ramai dengan tindakan kriminal kekerasan?
Klithih. Entah darimana fenomena ini terjadi. Sulit dijelaskan. Yaitu tindakan sekelompok orang, biasanya mengendarai motor, dan sambil membawa senjata tajam lalu melakukan pembacokan.
Klithih bagi saya bukan lagi kategori “kenakalan remaja,” tapi ini sudah tindakan kriminal serius. Apalagi para pelaku rata-rata menggunakan senjata tajam. Dan bisa berpotensi merenggut nyawa korban.
Saya baca di media, bahwa ada kejadian pembacokan terhadap beberapa pelajar asal SMA Muhammadiyah 1 Yogya. Mereka diserang saat melintasi Jalan Imogiri-Panggang, Dusun Lanteng, Selopamioro, Bantul, DIY pada Senin (12/12) kemarin. Gerombolan pelaku menggunakan cadar dan membawa senjata tajam.
Akibatnya serangan itu, tujuh siswa Muhi mengalami luka-luka terkena sabetan senjata tajam. Bahkan seorang siswa dalam keadaan kritis karena mengalami luka serius di bagian tengkuk dan tangan.
Tapi kejadian ini tak hanya sekali. Beberapa waktu sebelumnya pun terjadi peristiwa serupa. Dan lagi-lagi melibatkan pelajart tingkat SMA.
Apa jadinya bila pelajar Jogja istimewa dibiarkan terus seperti ini?
Klithih harus dihentikan. Jangan ada lagi ada korban. Aparat harus segera bertindak untuk mengusut dan menindak para pelaku. Dan pemerintah daerah harus bisa mencari solusi atas persoalan ini.
Dalam jangka pendek, aparat dan pemerintah bisa menindak para pelaku sesuai koridor hukum dan menciptakan suasana yang aman. Tapi secara jangka panjang menyelesaikan masalah ini perlu dicari akar penyebabnya terlebih dahulu.
Kenapa para pelajar malah bertindak kekerasan dan kriminal?
Saya sendiri mempunyai pendapat bahwa klithih ini terjadi karena kurang berhasilnya tri pusat pendidikan. Pendidikan yang tak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tapi juga di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Di Komisi D DPRD DIY yang bermitra dengan Dinas Pendidikan, saya selaku mendorong agar pemerintah tidak hanya memperhatikan pendidikan kognitif siswa semata.
Pendidikan yang tak hanya membangun kemampuan kognitif siswa, tapi juga membangun karakter dan akhlak. Pemerintah daerah harus mampu mengharmoniskan sekolah, keluarga dan masyarakat untuk saling melengkapi kebutuhan ilmu dan pembinaan karakter anak. Dengan hal itu, maka saya yakin akan terwujud pelajar Jogja yang tumbuh subur kultur pembelajaran intelektual dan terjaganya kualtias moral anak-anak sebagai pewaris masa depan bangsa.
Kejadian klithih ini harus dihentikan. Dan kita semua, warga Jogja, bisa mengambil peran agar kejadian yang sama tak terulang lagi.
Mungkin nJenengan ada saran atau usul bagaimana menghentikan kejadian klithih ini? Silahkan urun rembug di kolom komentar.
Salam #JogjaKampungKita

No comments:
Post a Comment