Jangan Mudah Terprofokasi Aksi Demo, Pahami Apa Maksud Dibalik Demo itu
Jagalah Hati, Tabayyun 411
Bisakah ayat Quran dijadikan alat untuk membohongi/membodohi orang?
Bisa, misalnya saat aparat menangkap teroris/ISIS, lalu bilang: "Jangan mau dibodohi PAKAI ayat-ayat jihad sehingga kau mau melakukan bom bunuh diri."
Apakah artinya ayat-ayat jihad di dalam Quran itu bohong? Tidak, hanya saja penafsirannya yang keliru, karena setiap penafsiran ayat itu perlu dilihat juga asbabunnuzul/sebab musababnya kenapa dan saat kapan/kondisi seperti apa hingga diturunkannya ayat tersebut.
Lalu siapa yang membodohi/membohongi teroris tersebut dengan menggunakan ayat-ayat jihad? Bisakah itu adalah seorang ulama? Bisa, namun tentu ulama yang sesat alias setan yang berpenampilan seperti ulama.
Maka apakah aparat yang menyebutkan kalimat di atas sedang menistakan Quran/ulama?
Atau saat sang istri bilang kepada suaminya yang ingin berpoligami: "Jangan membodohiku PAKE An-Nisa ayat 3!"
Apakah sang istri tersebut sedang menistakan Quran?
Tafsir dari kata "Awliya" (jamak) atau “Wali” (tunggal) pada Al-Maidah 51 yang lebih tepat adalah "Teman Setia/Sekutu" (di saat kondisi perang). Sedangkan bahasa Arab dari kata "Pemimpin" yang lebih tepat adalah Amir (tunggal) / Umaro (jamak), contoh: Amirulmukminin = Pemimpin orang-orang yang beriman.
Silakan cek tafsir internasional, tidak ada satu pun negara yang menerjemahkan kata "Awliya" pada Al-Maidah 51 sebagai "Pemimpin". Hanya di Indonesia sajalah terjemahan dari kata "Awliya" dirubah jadi kata "Pemimpin" oleh pemerintah orde baru karena pada saat itu dikhawatirkan jika diartikan "Teman Setia/Sekutu" maka akan ada yang menganggap bahwa muslim tidak boleh berteman dengan non-muslim sehingga bisa menyebabkan perpecahan bangsa (atau entah demi kepentingan politik sebagian golongan).
Padahal yang dimaksud "Teman Setia/Sekutu" di situ adalah sobat karib yang sangat dekat untuk selama-lamanya (sampai mati). Terlebih lagi, ayat tersebut diturunkannya (Asbabunnuzul-nya) pada saat umat Muslim sedang diperangi oleh kaum Nasrani dan Yahudi (Perang Uhud). Tentu saja sangat berbahaya bila ber-awliya/berteman setia/bersekutu dengan mereka di saat sedang berperang karena dikhawatirkan akan ada pengkhianatan. Hal tersebut tidak sama dengan kondisi kita saat ini di Indonesia yang justru sedang butuh menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, apalagi kita adalah negara demokrasi yang majemuk (negara damai). Setelah sadar akan kekeliruan terjemah dari kata tersebut, akhirnya kini DepAg telah merevisinya kembali ke arti yang sebenarnya.
Mengapa Ahok tahu tentang ikhtilaf (perbedaan) tafsir itu? Mengapa pula Ahok bilang ada yang membohongi masyarakat PAKAI ayat tersebut?
1. Karena Ahok dari sejak dulu saat pernah mencalonkan diri sebagai gubernur Bangka Belitung pun sudah sangat sering diserang dengan menggunakan ayat tersebut oleh para lawan politiknya yang kebetulan ber-KTP Islam. Bertebaran selebaran di masjid-masjid berisi Al-Maidah 51. Saat Ahok mengadukan hal ini kepada almarhum Gus Dur yang saat itu mendukung pencalonannya, almarhum Gus Dur mengatakan bahwa hal itu tak usah dihiraukan, terus maju saja, karena ayat itu beda konteksnya. Jadi, Ahok mendapatkan pemahaman tentang Al-Maidah 51 itu dari tafsir menurut almarhum Gus Dur, bukan menurut pemahamannya sendiri. Sebelumnya pun, Ahok adalah Bupati di Belitung Timur yang notabene 93% penduduknya adalah muslim. Hal tersebut mungkin terjadi karena pada saat menjadi anggota DPRD Belitung Timur, Ahok adalah pejabat yang terkenal karena kejujuran dan kerja kerasnya yang tulus membantu masyarakat di sana. Sebagai bupati yang berprestasi di Belitung Timur, berbagai penghargaan pernah ia peroleh.
2. Selain memiliki seorang ibu angkat yang beragama Islam (Berjilbab, Almarhumah) dan seorang kakak angkat yang merupakan pendakwah di Jamaah Tabligh (mantan suami artis Trie Utami), Ahok pun dari sejak SD hingga SMP belajar agama Islam di sekolah negeri (Maklum karena dulu di kampung kurikulum pelajaran agamanya hanya ada agama Islam saja). Nilai-nilai pelajaran agama Islam nya pun selalu bagus, bahkan lebih tinggi dibanding teman-temannya yang memang beragama Islam.
Muncul pernyataan: "Jika dijadikan teman setia saja tidak boleh, apalagi dijadikan pemimpin." Berkaitan dengan hal itu, gubernur adalah pelayan rakyat yang masa jabatannya hanyalah selama 5 atau paling lama 10 tahun saja (temporal), bukan seperti teman setia yang sangat dekat tuk selama-lamanya (sampai mati). Lagipula, kondisi kita saat ini tidak sedang berperang dengan kaum Yahudi/Nasrani seperti saat ayat ini diturunkan. Selain itu, kita pun bisa googling tentang apa saja prestasi dan jasa seorang Ahok kepada umat muslim selama dia menjabat kemarin, justru banyak kemaslahatan luar biasa yang telah dilakukannya demi kemajuan dan kesejahteraan umat muslim di Jakarta yang belum pernah dilakukan gubernur-gubernur ber-KTP Islam sebelumnya. Ahok adalah seorang pelayan rakyat yang non-Islam, namun sangat Islami.
Dengan latar belakang Ahok seperti yang telah diungkapkan di atas, maka apakah masih ada yang ngotot bahwa dalam video tersebut Ahok telah bermaksud dan dengan sengaja tega menistakan Quran, ulama, atau agama Islam?
Mungkin doktrin berita hoax dan fitnah lewat situs-situs berita dari pihak-pihak yang tidak suka jika Indonesia rukun dan maju karena dipimpin oleh para pemimpin yang berani bersih, jujur, dan amanah itu sudah terlalu mendarah daging di hatimu sehingga kebencian menutupi akal sehat dan nuranimu. Mari mengingat kembali nyayian Aa:
"Jagalah hati, jangan kau kotori... "
Masalah hidayah itu kuasa Illahi, namun pejabat yang berani bersih, jujur, amanah, dan pekerja keras itu sangat sulit dicari.
-radensonny-
#TabayyunItuSangatPenting
Tulisan lengkap dengan foto-fotonya bisa dibuka di sini:
https://www.facebook.com/radensonny/posts/1619877938029706
-Daftar Referensi-
Biografi Basuki Tjahaja Purnama / Ahok BTP, bisa dibuka di sini:
http://download.sprint-edu.com/Ahok.pdf
Kajian ilmiah tafsir Al-Maidah 51 dari Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD (Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama di Australia dan New Zealand, dosen, dan penulis dari banyak buku internasional maupun nasional), bisa dibuka di sini:
https://www.facebook.com/groups/kajian.bekasi/permalink/474945959376482/
Asbabunnuzul dan tafsir Al-Maidah 51 menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, bisa dibuka di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=n-chSlb8cLo
Tafsir Al-Maidah 51 menurut Ustadz Dr. Aam Amiruddin, M. Si. merujuk pada tafsir Ibn Kathir dan Imam Asy-Syaukani, bisa dibuka di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=8x9qWdxPsks
Penjelasan KH. Abdurrahman Wahid / Gus Dur tentang Al-Maidah 51 tidak ada kaitannya dengan pilkada, bisa dibuka di sini:
https://m.youtube.com/watch?v=it9p02sguA8&feature=youtu.be
Data tentang 'AHOK DAN KEMAJUAN UMAT ISLAM', bisa dibuka di sini:
https://www.facebook.com/radensonny/posts/1620946674589499
Pernyataan warga Kepulauan Seribu tentang Ahok Djarot, bisa dibuka di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=pQ6v6NYsjm4
-NOTE-
'AWLIYA' di Al-Maidah 51 BUKAN 'PEMIMPIN'
Hanya di Indonesia sajalah, kata 'awliya' pada Al-Maidah, An-Nisa, dan surat lainnya diartikan 'pemimpin'; di negara-negara lain selain Indonesia tidak ada yang mengartikannya 'pemimpin'.
AL-MAIDAH 51 DI NEGARA-NEGARA LAIN:
*Al-Quran Turki = dost edinmeyin = TEMAN
*Al-Quran Malaysia = teman rapat = SEKUTU
*Al-Quran Sahih International = allies = SEKUTU
*Al-Quran Prancis = alliƩs = SEKUTU
*Al-Quran Jerman = vertraute = SEKUTU
*Al-Quran Spanyol = como amigo = TEMAN
*Al-Quran Belanda = vrienden = TEMAN
*Al-Quran Itali = alleati = SEKUTU
Sumber: Sahih International
https://quran.com/5
*Maka wajar jika banyak ulama dunia yang menyimpulkan bahwa makna dari Al-Maidah 51, dengan juga melihat asbabunnuzulnya (ayat tersebut diwahyukan pada saat umat Islam mengalami kekalahan di perang Uhud), adalah:
Di saat kondisi perang, janganlah berteman/bersekutu dengan pihak musuh.
(Larangan ini tidak berlaku di negara yang damai/tidak sedang berperang)
Tidak heran jika di negara-negara lain yang mayoritas penduduknya juga beragama Islam, seperti di Mesir dan Turki, tidak pernah mempermasalahkan Al-Maidah 51 dalam memilih pemimpin birokrasi. Bahkan di Mesir ada fatwa ulama yang memperbolehkan memilih pemimpin birokrasi yang non-Islam, bahkan boleh perempuan. Sedangkan di Indonesia, lucu sekali, sebenarnya banyak parpol-parpol Islam yang beberapa kali juga pernah mencalonkan/ikut mendukung kepala daerah non-Islam di beberapa daerah, bahkan di daerah yang penduduk Islamnya mayoritas.
Fakta bahwa Al-Maidah 51 sering digunakan hanya untuk kepentingan politik oleh parpol-parpol Islam, bisa dibuka di sini:
https://m.facebook.com/Greater.Indonesia/photos/a.201793696929028.1073741828.201711906937207/204781909963540/?type=3
Bahkan:
http://www.fakta.web.id/pks-boleh-mengangkat-non-muslim-seb…
Silakan sebarkan tulisan ini dalam rangka turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, demi masa depan Indonesia yang lebih baik tuk anak cucu kita. Semoga menjadi amal jariyah.
#MuakPolitisasiSARA
#LawanFitnahBusuk
Share please...

No comments:
Post a Comment