Takun Disadap BIN Larang Siapapun Bermain Pokemon Go di Istana
Sebenarnya Indonesia terlalu berlebihan menyikapi Pokemon Go jika sampai harus memblokir aplikasi tersebut. Apalagi sampai ada larangan bermain pokemon go di istana karena takut data atau lokasi penting tersadap. Sebab, teknologi Augmented Reality yang digunakan di game itu hanya memasukkan monster virtual tersebut berdasarkan hitungan koordinat dan tidak melihat fisik ruangan.
Game itu tidak tidak mengambil data, karena tidak merekam gambar. Jika pun Indonesia merasa terancam oleh kehadiran monster-monster tersebut, ada teknologi lain yang bisa lebih canggih menjadi media bagi intelijen untuk mengumpulkan data penting.
Kalo soal pelacakan, Google sudah lama kita gunakan dan itu lebih canggih lagi ketimbang hanya game pokemon go. Google punya Street View, punya Google Glass. Jangan sampai sebuah mainan menakut-nakuti Anda dan membuat khawatir. Jika fasilitas penting tidak ingin sampai terekam gambarnya, minta pada pengembangnya untuk tidak meletakkan monster di dalam Istana, atau Mabes (markas besar). Google melakukan hal itu, menutupi beberapa area terlarang di Google Street View.
Nah sekarang siapa yang sebenarnya lebih canggih pokemon apa google? Lantas kenapa jadi pobia dengan teknologi? Sebaiknya lebih banyak cari tau sebelum takut akan terjadi sesuatu, memang mencegah lebih baik jika tidak menjadi ketakutan berlebih atau pobia.

No comments:
Post a Comment