Makna Sabar
Sabar adalah setengah dari iman.
Sementara setengahnya lagi adalah rasa syukur yang dipanjatkan atas karunia
Tuhan. Siapa orang yang mampu memadukan dan menggabungkan sabar dan syukur,
maka dia telah menggenggam kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Ia akan damai dan
tenang untuk hidup dimana saja, sebab ia telah mendapatkan keridhaan Allah
Ta’ala.
Siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku. Tidak bersabar atas
ujian-Ku. Tidak mau menerima ketetapan-Ku, maka keluarlah dari bawah langit-Ku
dan carilah Tuhan selain Aku!
Hadits Qudsi
Nabi Saw mendefinisikan kesabaran sebagai
cahaya. Ash Shabru Dhiyaa’ demikian beliau Saw sabdakan. Kesabaran adalah cahaya
yang menerangi manusia dalam kegelapan. Kegelapan musibah yang mengguncang
batin dan jiwa. Kegelapan dalam menempuh jalan kebenaran yang belum
tertuntaskan. Itu semua dapat diterangi oleh cahaya kesabaran yang dapat
menuntun manusia untuk keluar dari lorong kegelapan.
Sementara para ahli ma’rifat mendefinisikan
kesabaran sebagai: “Menahan diri dari kebencian, menjaga lisan dari keluhan,
menjaga anggota tubuh dari perbuatan merusak.”
وعن
أنس رضي الله عنه قال: مر النبي صلى الله عليه وسلم بامرأة تبكي عند قبر فقال:
<اتقي الله واصبري> فقالت: إليك عني فإنك لم تصب بمصيبتي. ولم تعرفه، فقيل
لها إنه النبي صلى الله عليه وسلم. فأتت باب النبي صلى الله عليه وسلم فلم تجد
عنده بوابين فقالت: لم أعرفك! فقال: <إنما الصبر عند الصدمة الأولى> متفق
عليه.
وفي رواية لمسلم: <تبكي على صبي لها<
Banyak manusia yang tak kuasa menahan
keluh-kesah saat tertimpa musibah. Keluh-kesah itu muncul sebagai tanda
ketidak-kuasaan jiwa. Suatu saat pernah Rasulullah Saw melintasi sebuah
pekuburan. Beliau dapati di sana ada seorang perempuan yang sedang menangis
terpekur dekat sebuah kubur. Melihat hal itu, Rasulullah Saw berujar kepadanya,
“Bertaqwalah dan bersabarlah..., wahai saudariku!” Mendengar hal itu sang perempuan menjawab,
“Tak usah kau pedulikan aku! Engkau belum pernah merasakan musibah seperti apa
yang ku alami kini...!
Perempuan itu tidak mengenali sumber suara
yang menyapanya. Hingga ada orang yang menyampaikan kepadanya bahwa
sesungguhnya pria tersebut adalah Nabi Muhammad Saw.
Perempuan itu pun datang ke rumah Nabi Saw.
Ia hendak menyampaikan penyesalan karena telah berkata kasar kepada beliau.
Hingga tiba ia di sana, maka perempuan itu menyatakan, “Maafkan aku baginda...
Aku telah berkata kasar kepada baginda sebab aku tidak mengetahui dirimu saat
memberiku nasehat. Aku begitu sedih sebab kematian anak yang aku cintai....
maafkan aku!”
Rasulullah Saw kemudian menasehati perempuan
itu dengan sabdanya, “Kesabaran sejati itu akan muncul
saat pukulan pertama kejadian!”
Hadits Muttafaqun Alaihi.
Siapa yang bersabar, maka jiwanya tidak akan
terguncang. Orang yang mengerti hakikat kesabaran, maka akan selalu bersikap
tenang. Tidak pernah berkeluh-kesah, apalagi menyerah. Semua permasalahan
dikembalikan kepada Allah Swt Tuhan Penguasa alam.
Al Hasan mengatakan bahwa kesabaran adalah
sebuah perbendaharaan yang ada di gudang kebaikan. Tidak Allah Swt berikan
kecuali kepada hamba yang Dia cintai.
Ganjaran bagi
Orang-Orang yang Sabar
Dalam kitab Jawa’iz
As Samaa karya DR. Majeed Ramadhan
cetakan Dal Al Manaar Al Haditsah disebutkan bahwa sedikitnya kesabaran akan
mendatangkan 8 manfaat bagi orang yang memilikinya. Ragam manfaat kesabaran itu
antara lain:
1.
Kebersamaan Allah
Hal ini sebagaimana
yang Allah Swt janjikan di dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar.” (QS. 2:153)
إِنَّ
اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar.” (QS. 8:46)
Seorang ulama
bernama Abu Ali Ad Daqaaq menyatakan, “Orang-orang yang mampu bersabar telah
mendapatkan kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Sebab mereka telah mendapatkan
kebersamaan hidup dengan Allah Swt”
Pahala atau balasan
mana yang lebih hebat dan dapat mengalahkan kebersamaan hidup dengan Allah Sang
Maha Pencipta? Inilah balasan teragung yang akan diterima oleh makhluk Tuhan
semesta.
2.
Kesabaran Dapat
Menghasilkan Balasan Tanpa Batas
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS.
39:10)
Bila malaikat
pencatat kebaikan akan membalas amal yang dilakukan manusia mulai dari 10 kali
lipat hingga 700. Maka balasan yang akan diterima oleh orang yang bersabar dari
Allah Swt adalah begitu banyak dan tanpa batas. Bukankah ini berita gembira
yang disampaikan kepada kita semua, wahai saudaraku?
3.
Meraih Kecintaan Allah
وَكَأَيِّن
مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُواْ لِمَا
أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا اسْتَكَانُواْ وَاللّهُ
يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka
sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah
karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak
(pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
(QS. 3:146)
4.
Cara untuk Meraih
Kepemimpinan
وَجَعَلْنَا
مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا
يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang
memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka
meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.
32:24)
5.
Cara untuk Mendatangkan
Keberuntungan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di
perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.”
(QS. 3:200)
6.
Kesabaran adalah Penolong
& Senjata
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyu'” (QS. 2:45)
7.
3 Paket Hebat yang Allah
Sediakan bagi Orang Bersabar
... وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم
مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ أُولَـئِكَ
عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ
الْمُهْتَدُونَ
“… Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka
itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 2:157)
8.
Sebuah Sebab yang Membuat
Malaikat Mengucapkan Selamat di Surga
وَالمَلاَئِكَةُ
يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ
فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Para
malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil
mengucapkan):"Kesalamatan atas kalian atas kesabaran yang telah kalian
lakukan".Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24)
Semua keutamaan
yang telah dipaparkan di atas adalah sebuah ganjaran tak ternilai bagi mereka
yang mampu bersabar. Karenanya, jadilah orang yang bersabar dan Anda akan
dapatkan semua paket kebahagiaan di atas!
Bersabar Menunggu Panggilan
Seorang pria berumur 61 tahun
bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya dengan membuka sebuah toko
berukuran 3 x 4 meter di sebuah jalan di kota Bandung. Tiada yang mendampingi
hidupnya di rumah selain Asih, istrinya. Sudah puluhan tahun berumah tangga,
Allah Swt Sang Maha Pencipta belum berkenan memberikan mereka keturunan.
Namun baik Asep dan Asih adalah
model makhluk Tuhan yang menerima segala ketetapan. Mereka selalu menghiasi
hidup dengan pengharapan terhadap Tuhan. Bersyukur atas segala nikmat yang
mereka terima, dan bersabar atas segala ujian yang diberikan.
Hampir dua puluh tahun mereka
menabung demi mewujudkan cita-cita. Sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan
dalam hati, untuk berangkat haji ke Baitullah, Mekkah Al Mukarramah.
Dengan hasil dagang di toko yang seadanya, sedikit demi sedikit mereka sisihkan
untuk menggapai cita-cita itu. Hanya ibadah haji saja dalam benak mereka yang
belum pernah mereka lakukan. Keinginan itu terus membuncah, menggelegak dalam
dada seorang hamba yang rindu akan keridhaan Tuhannya.
Hasil tabungan yang mereka
kumpulkan tidak mereka tabung di bank. Sengaja uang sejumlah itu mereka simpan
agar dapat memotivasi semangat mereka untuk mencari tambahan uang sesegera
mungkin. Sungguh dua puluh tahun dalam menabung, merupakan masa yang cukup
panjang untuk bersabar demi mewujudkan ketaatan kepada Tuhan. Tidak banyak,
manusia modern di zaman sekarang yang mampu memiliki niat sedemikian.
Malam itu, Asep dan Asih sekali
lagi menghitung jumlah tabungan mereka. Uang yang mereka simpan untuk berhaji
itu kini berjumlah Rp. 50.830.000. Sementara biaya haji pada saat itu berkisar
kurang lebih Rp 27 juta per orang, belum lagi biaya bimbingan haji yang harus
mereka ikuti, ditambah dengan uang jajan tambahan untuk membeli oleh-oleh.
Mereka menghitung, kurang lebih mereka memerlukan dana berkisar Rp 10 juta.
Setiap malam berlalu, Asep dan Asih selalu menghitung peruntungan jualan
mereka, dan sebagiannya mereka sisihkan untuk mewujudkan cita-cita berhaji.
Suatu pagi, Asep mendengar kabar
bahwa kawan karibnya dalam berjamaah shalat di Masjid As Shabirin jatuh sakit
secara mendadak dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan Sadikin. Setelah divisum oleh
dokter rupanya penyakit yang diderita tetangga sekaligus kawan karibnya itu
adalah penyakit tumor tulang. Sebuah penyakit yang jarang terjadi pada
masyarakat Indonesia.
Bersegeralah, Asep menjenguk kawan
karibnya itu. Sesampainya di sana, sahabat tersebut masih berada di ruang ICU
dan untungnya masih sadarkan diri sehingga dapat melakukan percakapan dengan
Asep. Dari penuturannya Asep mengetahui bahwa tumor tulang tersebut telah
membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri lagi, dan tumor tersebut harus
diangkat segera. Sebab bila tidak, maka tumor tersebut dapat menjalar ke bagian
tubuh lain. Asep bergidik mendengarnya. Namun ia masih terus membesarkan hati
sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa kepada Allah Swt Yang Maha
Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya.
Hampir setiap hari Asep menjenguk
sahabatnya itu. Pada hari kedelapan, sahabatnya itu telah dipindah ke ruang
rawat inap kelas 3, bersama tujuh pasien lainnya dalam satu kamar. Kamar
tersebut pengap dengan bau obat, dan tidak layak disebut sebagai kamar rumah
sakit. Pemandangan yang berantakan. Jemuran baju pasien dan pendamping yang
bertebaran di sepanjang jendela. Seprai kasur yang tidak rapi. Tikar dan koran
bertebaran di pojok-pojok kamar. Itu semua membuat pemandangan kamar menjadi
tidak asri dan pengap. Namun apa mau dikata, tetangganya adalah seorang yang
mungkin memilik nasib sama dengan jutaan orang di Indonesia. Sudah masuk rumah
sakit saja Alhamdulillah, nggak tahu bayarnya pakai apa?
Hari itu adalah hari kesebelas
sahabatnya dirawat di rumah sakit. Kebetulan Asep sedang berada di sana,
seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah sakit bahwa untuk membuang
tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah dijalankan sebuah
operasi. Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta. Bila keluarga pasien
mengharapkan kesembuhan, maka operasi tersebut harus dilakukan. Namun kalau mau
berpasrah kepada takdir Tuhan, maka tinggal berdoa saja agar terjadi keajaiban.
Siapa orangnya yang tidak mau
sembuh dari penyakit? Semua orang pun berharap sedemikian. Namun mau bilang
apa? Keluarga sahabat Asep tersebut sudah menguras habis tabungan yang mereka
miliki, namun itu semua untuk bayar biaya rumah sakit selama ini saja tidak
cukup. Apalagi untuk membiayai proses operasi? Sungguh, yang mampu mereka
lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah Swt.
Hari kedua belas, ketiga belas,
keempat belas.... kondisi pasien semakin parah. Badannya terlihat kurus tak
bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam sorot cahaya mata yang kian
meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan bicara. Tumor itu
semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan itu semakin
menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir ranjang sahabatnya,
Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.
Setelah berpamitan dengan keluarga
sahabatnya, ia bergegas pulang menuju rumah. Di sana terlihat olehnya Asih
sedang melayani pembeli yang datang ke toko sederhana milik mereka. Saat
pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan keputusannya itu kepada Asih.
“Bu..., Kang Endi tetangga kita
yang sedang di rawat di rumah sakit itu kondisinya semakin memburuk. Bapak
tidak sanggup melihat penderitaannya. Sepertinya kita harus bantu dia dan
keluarganya. Tiga hari lalu, kebetulan bapak sedang di sana, seorang suster
memberitahukan bahwa Kang Endi harus dioperasi segera. Keluarganya belum berani
menyatakan iya, sebab biaya operasi itu hampir Rp 50 juta....” Asep membuka
pembicaraannya dengan kalimat yang panjang.
Asih pun mulai merasa iba dengan
penderitaan Kang Endi dan keluarganya, “Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu
apa...?” Asep pun langsung menyambung dengan cepat, “Kalau ibu berkenan,
bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk
biaya operasi?” Kalimat itu diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir
Asep. “Diberikan....?!! Waduh pak..., hampir dua puluh tahun kita nabung dengan
susah payah agar cita-cita berhaji dapat diwujudkan. Masa bisa pupus seketika
dengan membantu orang lain yang bukan saudara kita?” Asih mengajukan penolakan
atas usulan suaminya.
“Bu...., banyak orang yang berhaji
belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk
meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya berhaji di pekarangan rumah kita
sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak yakin bila kita menolong saudara kita,
Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh Dia Yang Maha Kuasa.” Kalimat itu
meluncur dari mulut Asep dan menohok relung hati Asih sehingga begitu membekas
di dasarnya. Tak kuasa, Asih pun mengangguk dan setuju atas usul suaminya.
Keesokan pagi, Asep dan Asih pun
datang berdua ke rumah sakit untuk menjenguk. Toko mereka ditutup hari itu.
Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah amplop tebal
berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka siapkan untuk berhaji.
Keduanya tiba di rumah sakit dan
menjumpai Kang Endi dan keluarganya di sana. Usai membacakan doa untuk pasien,
keduanya datang kepada istri Kang Endi. Mereka serahkan sejumlah uang tersebut,
dan suasana menjadi haru seketika. Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment
dimana doa diijabah oleh Tuhan. Sementara bagi Asep dan Asih, ini merupakan
saat dimana keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan. Lalu pulanglah Asep
dan Asih ke rumah setelah berpamitan kepada keluarga.
Uang itu kemudian segera dibawa
oleh salah seorang anggota keluarga ke bagian administrasi rumah sakit.
Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi. Besok pagi jam 08.00 operasi
pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang Endi akan dilakukan. Alhamdulillah!
Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke
ruang operasi. Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini
menangani Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi
berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu..., darimana
dana operasi ini didapat?” Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut, karena ia
tahu sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi sebab keluarga tidak mampu
menyediakan dananya.
Istri Kang Endi menjawab, “Ada
seorang tetangga kami bernama pak Asep yang membantu, Alhamdulillah
dananya bisa didapat, Dok!” “Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana
hingga sebesar itu?” Dibenak dokter, pastilah pak Asep adalah seorang pengusaha
sukses.
“Dia hanya punya usaha toko kecil
di dekat rumah kami. Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan
bantuan sebesar itu!” Istri Kang Endi menambahkan.
Di dalam hati, dokter kagum dengan
pengorbanan pak Asep dan istrinya. Hatinya mulai tergerak dan berkata, “Seorang
pak Asep yang hanya punya toko kecil saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang
seorang dokter spesialis dan kaya raya, tidak tergerak untuk membantu sesama.”
Suara hati itu terus membekas dalam dada pak dokter. Pembicaraan itu usai, dan
dokter pun masuk ke ruang operasi.
Alhamdulillah operasi berjalan
sukses dan lancar. Ia memakan waktu hingga 4 jam lebih. Semua tumor yang berada
pada tulang Kang Endi telah diangkat. Seluruh keluarga termasuk dokter dan
perawat yang menangani merasa gembira.
Kang Endi tinggal menjalani masa
penyembuhan pasca operasi. Pak Asep masih sering menjenguknya. Suatu hari
kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang Endi dan pak Asep pun sedang
berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter memuji keluasan hati pak
Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Pemiliknya, yaitu
Allah Swt. Hingga akhirnya, pak dokter meminta alamat rumah pak Asep secara
tiba-tiba.
Beberapa minggu setelah Kang Endi
pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya.
Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam diparkir di
luar pagar rumah. Nampak ada sepasang pria dan wanita turun dari mobil
tersebut. Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah keduanya yang kini datang
mengarah ke rumah pak Asep. Begitu mendekat, tahulah pak Asep bahwa pria yang
datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya kemarin.
Gemuruh suasana hati Asep. Ia
terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak dokter bersama istrinya. Terus
terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima tamu agung seperti malam
ini.
Maka dokter dan istrinya dipersilakan
masuk. Setelah disuguhi sajian ala kadarnya, maka mereka berempat terlibat
dalam pembicaraan hangat. Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu
berlangsung. Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan
istri. Maka pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi
kepada pak Asep dan istri.
Pak dokter menyatakan bahwa ia
terharu dengan pengorbanan pak Asep dan istri yang telah rela membantu
tetangganya yang sakit dan memerlukan dana cukup besar. Ia datang bersilaturrahmi
ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui kondisi pak Asep dan belajar cara
ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di bangku kuliah. Semua kalimat
yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep dengan bahasa yang selalu
merendah.
Tiba saat pak dokter berujar, “Pak
Asep dan ibu...., saya dan istri berniat untuk melakukan haji tahun depan. Saya
mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan kami dimudahkan Allah Swt... Saya yakin
doa orang-orang shaleh seperti bapak dan ibu akan dikabul oleh Allah...” Baik
Asep dan Asih menjawab serentak dengan kalimat, “Amien...!”
Pak dokter menambahkan, “Selain
itu, biar doa bapak dan ibu semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri,
ada baiknya bila bapak dan ibu berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci
Mekkah dan Madinah...” Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama
membuat bingung Asep dan Asih sehingga membuat mereka berani menanyakan,
“Maksud pak dokter....?” “Ehm..., maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak
bapak dan ibu Asep untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah
akan mengabulkan doa kita semua!”
Kalimat itu berakhir menunggu
jawaban. Sementara jawaban yang ditunggu tidak kunjung datang hingga air mata
keharuan menetes di pipi Asep dan Asih secara bersamaan. Beberapa menit
keharuan meliputi atmosfir ruang tamu sederhana milik Asep dan Asih. Seolah
bagai rahmat Tuhan yang turun menyirami ruh para hamba-Nya yang senantiasa
mencari keridhaan Tuhan.
Asep dan Asih hanya mampu
mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Usai pak dokter pulang, keduanya
tersungkur sujud mencium tanah tanda rasa syukur yang mendalam mereka sampaikan
kepada Allah Yang Maha Pemurah. Akhirnya, mereka berempat pun menjalankan haji
di Baitullah demi mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla.
Sungguh, kesabaran panjang yang
diakhiri dengan pengorbanan kebaikan, akan berbuah di tangan Allah Swt menjadi
balasan yang besar dan anugerah yang tiada terkira.

No comments:
Post a Comment