Yogyakarta Kembali di Guncang Gempa 29 Maret 2016


Yogyakarta Kembali di Guncang Gempa 29 Maret 2016.Masyarakat diharap Waspada, namun tetap tenang karena Gempa tidak berpotensi tsunami.

GEMPA SELATAN JAWA
03.43 WIB 29 MARET 2016
F-E Region: Java, Indonesia
Time: 2016-03-28 20:43:24.9 UTC
Magnitude: 4.6
Epicenter: 109.34°E 8.68°S
Depth: 58 km
Status: A - automatic


Mengapa Jogja Sering di Guncang Gempa?

Adanya ancaman bahaya gempa bumi yang terpusat di darat maupun laut di bagian Selatan Jawa terutama Wilayah Yogyakarta, kata Kepala Seksi Observasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Bambang Subagyo.

"Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan daerah yang rawan bencana di antaranya gempa. Gempa ada yang terpusat di lautdan di darat, tetapi keduanya memiliki ancaman bahaya yang sama,karena di bawahnya terdapat pertemuan antar lempeng aktif Indo-Australi dan Eurasia, jadi bisa dikatakan kalau daerah Selatan Jawa terutama Yogyakarta menjadi wilayah yang rawan gempa.

Menurut Staf Observasi Stasiun BMKG Yogyakarta, Aveb Arief Nugroho, masyarakat di DIY harus sadar bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana dan memperhatikan posisi dan tataruang rumah serta benda-benda di dalamnya. Gempa darat ada beberapa titik yang ada di Yogyakarta tambahnya saat ditemui di Kantor Observasi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Gempa juga di sebabkan karena struktur batuan yang ada di bawahnya bergeser yang menyebabkan terasa atau tidaknya suatu gempa. Serta gempa di Yogyakarta tidak ada kaitannya pula dengan Gunung Aktif Merapi karena itumerupakan perputaran suatu magma di dalam perut bumi, jadi masyarakat harus mampu membedakannya. Gempa yang sering terjadi ini juga memiliki potensi terhadap penyempitan dan perluasan suatu wilayah. Pergerakan lempeng di wilayah ini sekitar 7 cm,” tambahnya.

"Titik aktivitas tektonik tersebut cukup banyak dan kecil-kecil, tetapi yang paling rawan dalam gempa darat itu adalah jalur patahan sesar Opak-Oya. Kalau patahan Opak-Oya itu sudah jelas, aktif sekali dari dulu. Itu merupakan pelepasan-pelepasan energi yang banyak berada di zona subduksi sehingga banyak gempa," katanya lagi menjelasakan.

Aveb mengimbau masyarakat untuk selalu siap sewaktu-waktu jika terjadi bencana gempa, sebab selama ini belum ada satu pun negara maupun alat yang bisa mendeteksi lebih awal akan ada gempa. Karena gempa maupun gempa susulan sekalipun tidak dapat diprediksi.

"Potensi terjadinya gempa, tergantung energi yang terkumpul, ketika titiknya sudah tidak kuat menahannya, baru akan dilepaskan dalam bentuk getaran itu,jadi itu merupakan pelepasan suatu energi antar lempeng yang aktif," kata dia.

Ia mengatakan, dengan mengetahui bagaimana menyikapinya, bencana gempa bumi sebenarnya tidak berbahaya.


 Cek Informasi Update Gempa terbaru di website BMKG


►Cek Update Gempa

"Gempa di Yogyakarta ini sudah terjadi sejak tahun 1.810-an sekitar 500 lebih gempa sudah terjadi dan yang paling besar adalah saat gempa tahun 2006, yang terjadi di wilayah selatan DIY. Peristiwa tersebut memang mengakibatkan ribuan korban jiwa, terutama dari Kabupaten Bantul. Namun, saat itu juga ada isu Tsunami. Seharusnya, ada orang yang ditolong karena tertimpa bangunan, tapi malah lari karena ada isu tsunami," kata Aveb.

“Salah satu cara yang dapat dilakukan ketika menghadapi bencana ini adalah dengan tidak panik. Kemudian, mencari tempat yang lapang, sebelumnya harus tahu tata ruang rumah dan tidak meletakkan barang-barang berat di dinding. Sesudahnya, kita harus menyadari bahwa akan ada gempa susulan, jangan langsung kembali kerumah sebelum ada info selanjutnya apakah sudah aman atau masih ada potensi gempa lagi,” pungkas dia

No comments:

Quote of the day: